Penguatan Pariwisata Berbasis Kearifan Lokal di Desa Balandean Muara, Kabupaten Barito Kuala
Kata Kunci:
Partisipasi Masyarakat, Pariwisata, Kearifan Lokal, Desa Balandean MuaraAbstrak
Pengembangan pariwisata di tingkat desa kerap menghadapi tantangan berupa rendahnya kapasitas masyarakat dan belum optimalnya pemanfaatan nilai budaya lokal. Desa Balandean Muara mengalami kondisi serupa, dimana keterbatasan kemampuan masyarakat dalam mengelola pariwisata serta belum maksimalnya eksplorasi potensi budaya menjadi hambatan utama pengembangan desa sebagai destinasi wisata. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan wisata berkelanjutan dan pengembangan produk wisata dengan mengoptimalkan potensi budaya yang dimiliki Desa Balandean Muara. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Balandean Muara, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, yang memiliki potensi ekowisata khas berupa lanskap lahan basah, praktik pertanian rawa, kuliner tradisional, serta situs sejarah makam Pahlawan Jaya Arja. Kegiatan ini menggunakan metode partisipatif melalui kegiatan sosialisasi, diskusi kelompok dan pendampingan masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan wisata berkelanjutan, serta penguatan daya tarik wisata berbasis budaya dan religi. Dengan demikian, kegiatan ini berkontribusi dalam memperkuat identitas lokal sekaligus mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan di tingkat desa.
Referensi
Arifin, A. P. R. (2017). Pendekatan Community Based Tourism Dalam Membina Hubungan Komunitas di Kawasan Kota Tua Jakarta. Jurnal Visi Komunikasi, 16(1), 111–130. https://doi.org/10.22441/visikom.v16i1.1647
Damanik, J. dan Weber H. F. (2006). Perencanaan Ekowisata dari Teori ke Aplikasi. Andi Offset. Yogyakarta.
Dewi, M. H. U., Fandeli, C., & Baiquni, M. (2013). Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali. Kawistara, 3(2), 129–139. https://doi.org/10.22146/kawistara.3976
Dinas Pariwisata Kabupaten Barito Kuala. (2023). Laporan tahunan pengembangan pariwisata daerah. Marabahan, Indonesia: Dispar Barito Kuala.
Lasswell H. (1948). “The Structure Function of Communication in Society”, TheCommunication of Ideas.Institute for Religious and Social Studies. New York.
Mead, G. H. (1934). Mind, Self, and Society From The Standpoint of A Social Behaviorist. The University of Chicago Press.
Pearce, D. (1995). Tourism today: A geographical analysis (2nd ed.). Harlow, UK: Longman.
Ritonga, R. M. (2019). Pengembangan Wisata Warisan Budaya sebagai Daya Tarik Kota Tangerang Cultural Heritage Tourism Development As Tourist Atiraction In tangerang. Jurnal Binawakya. 14 (3), 2249-2258.
Soekanto, S. (2010). Sosiologi Suatu Pengantar. Edisi. I, Cetakan. 43. Jakarta: Rajawali Pers.
Suansri, P. (2003). Community-based tourism handbook. Bangkok, Thailand: Responsible Ecological Social Tour Project (REST).
Winahyu, P. (2020). Penerapan Model AIDA untuk Mengukur Efektivitas Rancangan Media Promosi Brosur pada Niat Pembelian Produk Jasa Angkutan Barang pada PT. Kereta Api Indonesia (Persero) DAOP 8 Surabaya. Universitas Airlangga.
Yoeti, O. A. (2008). Perencanaan dan pengembangan pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramita.
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Hak Cipta (c) 2025 Eva Nurrahmi Lukman

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.



